Makassar Terkini

Tempatta Saling Sipakatau dan Sipakalabbiri'

Mengenal nama-nama jalan di Kota Makassar tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Namun, pernahkah Anda bertanya bagaimana sejarah nama-nama jalan tersebut? Adakah hal-hal yang unik atau seram di balik penamaan itu? Seram mungkin tidak, tapi yang pasti setiap nama jalan punya alasannya.

TIGA puluh tiga tahun yang lalu walikota Ujungpandang M. Dg. Patompo merasa tertantang dalam menyelesaikan simpang siur penamaan jalan dan nomer rumah yang ketika itu terbilang tidak jelas dan memusingkan.
Walikota yang terkenal tegas ini lalu meminta pertimbangan DPRD KMUP. Para wakil rakyat menerima dengan positif, dan segera –waktu itu Juli 1972- membentuk tim yang bertugas menyempurnakan nama-nama jalan dan nomer-nomer rumah.
Meskipun tim itu tahu bahwa mereka adalah anggota dewan yang terhormat, tidak sedikitpun dari mereka yang memperlihatkan sifat sok tahu apalagi sok pintar. Dengan ‘gagah’ tim yang diketuai Ir. Iskandar Letnan TNI angkatan laut itu mengundang berbagai pihak dan instansi untuk saling tukar pikiran. Satu persatu dari mereka yang hadir dimintai masukannya oleh tim.
Inspeksi lalu Lintas Jalan dan Angkutan Darat menyarankan: “Nama jalan dapat dibaca dengan terang pada jarak kurang lebih 100 meter, baik siang maupun malam.”
Polisi Lalu Lintas lain lagi sarannya, “Agar nama-nama jalan dibagi dalam pengelompokan daerah, hingga dengan menyebut sesuatu nama, jelas diketahui lokasi jalan itu. Ini memudahkan ditemukannya tempat-tempat yang memerlukan tindakan Poltas.”
Pos dan Giro tak mau ketinggalan. Masukan mereka cukup brilyan: “Sebaiknya jalan yang lurus diberi nama tunggal. Contohnya, Jalan Veteran diberi nama tunggal dari Jalan Bandang dan berakhir di Pasar Pa’baeng-Baeng. Atau Jalan Dr. Ratulangi, Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan H.O.S. Cokroaminoto diberi satu nama saja. Ini dimaksudkan untuk memudahkan pemberian nomer-nomer rumah yang baru”.
Lalu bagaimana masukan pakar kebudayaan? Mereka berharap agar nama yang berbau sejarah dan yang mencerminkan kehidupan kebudayaan Bugis-Makassar dihidupkan kembali. Lain halnya masukan dari dinas PDK KMUP, mereka meminta nama-nama jalan harus sesuai dengan perkembangan kota 3 dimensi, yakni kota dagang, industri, dan budaya.
“Nama-nama ikan di kecamatan Makassar, nama-nama binatang di Kecamatan Mamajang dan nama “hati” di Kecamatan Mariso diganti saja,” kata sesepuh Bugis Makassar Andi Pangerang Petta Rani yang tak luput dimintai pendapatnya (yang kemudian namanya ikut diabadikan di salah satu jalan protokol di kota kita ini).
H.D. Mangemba lain lagi. Beliau justru ingin meluruskan nama jalan yang sudah ada. “Kalau mau pakai nama orang, pakailah dengan baik. Misalnya, Jalan Riburane, mestinya Jalan Karaeng Riburane, sebab itu nama yang sebenarnya. Jalan Amanna Gapa, mestinya Jalan Amana Gappa. Jalan Bontolempangan, mestinya Botolempangan”.
Semua masukan tersebut lalu dijadikan bahan berharga untuk kemudian diberikan dan dipercayakan kepada tim dalam menyelesaikan tugasnya.

Straat Diganti Doori
Nama-nama jalan di Kota Makassar memiliki sejarahnya sendiri. Saat Jepang menduduki Indonesia, mereka mengganti nama-nama jalan yang berbau Belanda. Yang dulunya memakai nama “Straat, Weg, Boulevard, Laan, dan Pad”, diganti jadi “Doori”. Misalnya Jalan Andalas, saat Jepang berkuasa diberi nama Asahi Doori. Jalan Gunung Bulusaraung menjadi Futaba Doori. Ketika Jepang kalah, dan Belanda kembali muncul, semua nama-nama Belanda “dihidupkan” kembali, seperti Hooge Pad (Jl. Jend. Ahmad Yani) atau General Van Dalen Weg (Jl. Sultan Hasanudin). Baru ketika negara Republik Indonesia terbentuk pada tahun 1950, nama-nama Belanda diganti dengan nama-nama Indonesia.
Ada yang menarik dalam ‘kasus keliru’ asal-usul Jalan Kelapa. Pada jaman Belanda jalan itu bernama Klapperland, yang sama sekali bukan berarti kelapa. Hanya lantaran lidah pribumi sudah akrab dengan nama Klapperland, maka penyebutannya terus ikut menjadi kelapa. Jalan kelapa adalah jalan yang dibuat oleh seorang pemborong Belanda yang bernama Klapper.
Lalu, di kekinian nama-nama jalan di kota tercinta kita ini, adakah yang cukup menyita keheranan kita? Mungkin tak banyak, tapi ada satu dan cukup mengganggu. Di mulut jalan menuju kawasan Tanjung Bunga, tepat di depan rumah jabatan Walikota, di situ masih tertancap dua nama jalan yang berbeda. Sebelah kiri tertulis Jl. H.D Patompo, dan di sebelahnya lagi Jl. Metro Tanjung Bunga.

‘Masalah’ ganti-mengganti nama jalan, khususnya di dekat Pusat Jajan Laguna itu harusnya tak perlu berlarut-larut hingga sekarang, jika saja kita mau menengok ke belakang, dan belajar bagaimana bermusyawarah dengan baik. SUmber; Majalah Makassar Terkini

Berbagi Bersama

Berikan balasan

Komentar balasan di diskusi ini

Beberapa nama jalan yg menurut saya perlu dicari asal muasalnya : Jln. Kaccia, jln. Buldozer dan Jl. Tembus Terowongan

Berikan balasan

Klapperland artinya Tanahnya Sang Penepuk Tangan (=klapper)

Berikan balasan

you are wrong...klapperland is not right but the right is Klapperlaan.

Berikan balasan

RSS

Dg Matu Winamp Skin

Download Skin Winamp-nya Daeng Matu'

Lencana Makassar Terkini

Sedang Memuat.....

© 2009   Created by caesarleo on Ning.   Create a Ning Network!

Lencana  |  Laporkan Masalah  |  Privasi  |  Terms of Service

Sign in to chat!